News

Jokowi Disengat Politik Racun Kalajengking

Berita Presiden Indonesia “disengat” kalajengking, https://news.detik.com/berita/d-4003649/jokowi-disengat-politik-racun-kalajengking, menjadi heboh. Ungkapan presiden itu maksudnya potensi racun kalajengking sebagai bahan obat. Ini bukan bualan. Kalajengking memang sedang dieksplorasi peneliti sebagai sember bahan obat untuk mengatasi masalah kesehatan manusia. Ini contoh publikasinya Scorpion venom components as potential candidates for drug development. Kalajengking telah menjadi sumber berharga dari molekul aktif biologis, mulai dari antibiotik baru hingga terapi antikanker yang potensial.

Kami di Universitas Udayana juga sedang mengeksplorasi potensi keanekaragaman hayati Indonesia.  Kekayaan laut Indonesia masih kurang dieksplorasi. Meskipun negara ini terdaftar dalam aksi global penemuan farmasi laut (Mayer et al., 2013), dari ratusan zat aktif yang sedang dalam ‘pipelines’ menuju uji klinis dan pasar di dunia, sangat sedikit yang berasal dari Indonesia. Publikasi pada farmasi alami dari air Indonesia ada dalam referensi berikut (Galinier et al., 2009; Hertiani et al., 2010; Jean et al., 2009; Laville et al., 2009; Li et al., 2010; Plaza et al., 2009; Suna et al., 2009; Williams et al., 2009; Youssef et al., 2010). Dari jumlah studi yang terbatas itu, hampir semuanya dilakukan di luar negeri.

Universitas Udayana telah sejak 2010 mengembangkan inisiatif Indonesian Biodiversity Research Center (IBRC). IBRC merupakan kerjasama antara Universitas Udayana, Universitas Papua – Manukwari, Universitas Diponogoro – Semarang, dan University of Los Angeles – Amerika Serikat. Dokumen kerjasama terlampir. Kerjasama itu juga sudah diulas dalam makalah Barber et al. (Barber et al., 2013) Beberapa makalah internasional sudah diterbitkan pada jurnal bereputasi. Proses bioprospekting telah dipublikasi dalam beberapa makalah jurnal internasional bereputasi (Phuong and Mahardika, 2018; Phuong et al., 2016; Sabbatini et al., 2014).

Publikasi terakhir (Phuong and Mahardika, 2018), kita berhasil menidentifikasi peptida toksin dari siput laut dari perairan laut Bali. Konotoksin, toksin yang diperoleh dari keong laut, berpotensi dikembangkan menjadi obat-obatan yang bermanfaat bagi kemanusiaan (Gao et al., 2017). Salah satu yang sudah menerima approval dari FDA America sebagai obat analgesik adalah Ziconotide (Prommer, 2006). Bahan itu diketahui mempunyai efek analgesik yang jauh lebih baik dari morfin (Bowersox and Luther, 1998). Analisis in-silico pada lebih dari 2000 peptida racun siput laut yang diidentifikasi  (Phuong and Mahardika, 2018), dan memilih kelompok toksin yang novel, kita berhasil mengidentifikasi empat senyawa potensial sebagai drug lead yaitu, hydrolase inhibitor/bikunin/blood clotting/blood clotting inhibitor/boophilin, Phospholipase A2, Neurophysin II, dan Alpha-d-conotoxin (Mahardika, unpublished data). Potensi obat bahan aktif tersebut perlu dikaji lebih lanjut. Satu bahan, yaitu bikunin, sudah dibuktikan menghambat metastase kanker ovari (Kobayashi et al., 2003).  

Racun hewan sebagai obat??? Kenapa tidak???